Bandarkhalifahnews | Aceh Timur — Sejumlah jurnalis di Kabupaten Aceh Timur turut menjadi korban bencana banjir hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025. Mereka kehilangan tempat tinggal, kendaraan, serta seluruh peralatan kerja jurnalistik akibat terjangan banjir besar.
M. Zubir, jurnalis Cakrawala Nusantara (Kabiro), mengungkapkan bahwa rumahnya didesa seunebok saboh kecamatan Pante bidari terendam banjir hingga seluruh harta benda hanyut. Sepeda motor Honda PCX miliknya tenggelam, telepon genggam merek Oppo hilang, serta seluruh pakaian dan peralatan rumah tangga tidak tersisa.
“Baju habis semua, yang tersisa hanya yang melekat di badan. Alat kerja jurnalis juga tidak ada lagi,” ujar Zubir.
Meski menjadi korban, Zubir mengaku tetap berusaha menjalankan tugas jurnalistik untuk memberitakan bencana banjir di Aceh Timur. Namun, upaya tersebut terhambat oleh kondisi darurat di lapangan.
“Kami tetap berusaha meliput bencana, tetapi jaringan internet tidak ada, listrik padam, sehingga hanya bisa mengambil dokumentasi foto dan video di saat kejadian,” katanya.
Hal senada disampaikan Ridwan, wartawan Cakrawala Nusantara lainnya. Ia menyebut rumahnya rusak parah akibat banjir, bahkan terbelah dua dan sebagian hanyut terbawa arus. Dua unit sepeda motor, yakni Honda kucing Garong dan Yamaha N-Max, tenggelam. Seluruh perabot rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, televisi, serta pakaian keluarga hilang tanpa sisa.
“Alhamdulillah anak dan istri selamat, tapi kami lari menyelamatkan diri tanpa membawa apa-apa. Yang ada hanya pakaian di badan,” tutur Ridwan. Ia bersama keluarga mengungsi ke kawasan Bukit Kareng, Desa Seuneubok Saboh. Pante bidari Aceh Timur.
Ridwan juga menyampaikan bahwa sejak 26 November hingga Kamis, 18 Desember 2025, dirinya baru bisa kembali hadir di Posko Bencana Jurnalis yang berada di Terminal Idi Rayeuk, bersebelahan dengan reas arae di pusat ibu kota Kabupaten Aceh Timur.
Atas musibah ini, para jurnalis korban banjir memohon perhatian serius dari Presiden Republik Indonesia, Dewan Pers, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, serta organisasi-organisasi pers.
“Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi. Alat kerja tidak ada, kendaraan tidak ada, sementara kami tetap menjalankan tugas jurnalistik,” ungkap Ridwan dengan nada harap.
Sementara itu, Hendrika Saputra, A.Md, selaku Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur sekaligus Ketua Posko Bencana Jurnalis, turut menyampaikan permohonan perhatian dan kepedulian dari semua pihak.
“Kami mohon kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Pers, Ketua Organisasi Jurnalis di Aceh dan Aceh Timur agar dapat memberikan perhatian, santunan, serta bantuan alat kerja bagi rekan-rekan jurnalis yang menjadi korban bencana,” ujar Hendrika.
Ia menegaskan bahwa para jurnalis juga merupakan korban bencana yang terdampak langsung, namun tetap berupaya membantu masyarakat dan sesama rekan wartawan yang tertimpa musibah.
“Kami juga dalam kondisi terdampak, namun tetap berusaha saling membantu untuk meringankan beban saudara-saudara jurnalis lainnya,” pungkasnya.


0 Comments